Written by Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si
A. Sekilas Perkembangan Penginderaan Jauh
Sejak
lahir manusia memahami dan mengenal lingkungan sekitarnya dengan
pandangan mata. Manusia mengenal adanya berbagai obyek dengan melakukan
pengamatan. Berbagai kejadian alam yang terjadi teramati dalam
batas-batas pandangan visualnya. Pengenalan lingkungan melalui
amatan-amatan visual ini telah berlangsung berabad-abad. Melalui metode
ini berbagai pengetahuan dan teknologi telah terlahirkan.
Metode
pengenalan terhadap lingkungan berdasar pada amatan visual tentu
memiliki keterbatasan-keterbatasan terutama terkait dengan luas area
amatannya. Kejadian-kejadian seperti perubahan luas tutupan vegetasi,
perubahan luas penggurunan, perubahan tutupan es, ataupun penggundulan
hutan tidak teramati dengan baik melalui pengamatan secara langsung.
Walaupun
tentu saja bukan berarti penginderaan jauh tidak memiliki kekurangan,
data penginderaan jauh mampu memberikan informasi spasial yang luas.
Melalui data-data penginderaan jauh multi temporal dapat dihasilkan
pembandingan informasi spasial dari satu waktu dengan waktu yang lain.
Data penginderaan jauh seperti foto udara dan citra satelit dapat
meningkatkan akurasi dan kecepatan analisa terhadap berbagai.
Penginderaan jauh pada saat ini bukan hanya sekedar suatu fenomena
teknis, tetapi telah berkembang menjadi suatu bagian penting dalam
memahami berbagai permasalahan perubahan lingkungan (Adams, 2006).
Informasi
diperoleh dengan cara deteksi dan pengukuran berbagai perubahan yang
terdapat pada lahan dimana obyek berada. Proses tersebut dilakukan
dengan cara perabaan atau perekaman energi yang dipantulkan atau
dipancarkan, memproses, menganalisa dan menerapkan informasi tersebut.
Informasi secara potensial tertangkap pada suatu ketinggian melalui
energi yang terbangun dari permukaan bumi, yang secara detil didapatkan
dari variasi-variasi spasial, spektral dan temporal lahan tersebut
(Landgrebe, 2003).
Penginderaan
jauh berkembang dalam bentuk pemrotretan muka bumi melalui wahana
pesawat terbang yang menghasilkan foto udara dan bentuk penginderaan
jauh berteknologi satelit yang mendasarkan pada konsep gelombang
elektromagnetis. Dalam perkembangannya saat ini, dengan adanya teknologi
satelit berresolusi tinggi, pengenalan sifat fisik dan bentuk obyek
dipermukaan bumi secara individual juga dapat dilakukan (Lang,2008).
Pada
dasarnya teknologi pemotretan udara dan penginderaan jauh berteknologi
satelit adalah suatu teknologi yang merekam interaksi berkas cahaya yang
berasal dari sinar matahari dan obyek di permukaan bumi. Pantulan sinar
matahari dari obyek di permukaan bumi ditangkap oleh kamera atau
sensor. Tiap benda atau obyek memberikan nilai pantulan yang berbeda
sesuai dengan sifatnya. Pada pemotretan udara rekaman dilakukan dengan
media seluloid (film), sedangkan penginderaan jauh melalui media pita
magnetik dalam bentuk sinyal-sinyal digital. Dalam perkembangannya
potret udara juga seringkali dilakukan dalam bentuk digital.
Penginderaan
jauh modern diawali dengan diluncurkannya satelit Landsat Multispectral
Scanner System (MSS) pada tahun 1972 (Schowengerdt, 2007). Satelit ini
memiliki empat saluran dengan lebar spektral sekitar 100 nm, dan
resolusi spasial 80 meter. Peluncuran satelit ini mengawali sistem
penginderaan jauh sistem satelit digital. Perkembangan selanjutnya
terjadi peningkatan yang signifikan terutama dalam pemotongan rentang
spektral untuk setiap saluran citra. Satelit hyperspectral seperti MODIS
memiliki jumlah saluran sebanyak 36 band. Dengan kemampuannya tersebut,
satelit dapat diaplikasikan dalam banyak hal. Kemampuan satelit ini
banyak dimanfaatkan dalam berbagai hal yang bersifat spasial. Hingga
saat ini penginderaan jauh telah diaplikasikan untuk keperluan
pengelolaan lingkungan, ekologi, degradasi lahan, bencana alam, hingga
perubahan iklim (Horning, 2010; Roder, 2009; Bukata, 2005; Adosi, 2007).
Sebagian besar dari aplikasi data penginderaan jauh dimanfaatkan untuk
pengelolaan sumberdaya.
Satelit
penginderaan jauh yang banyak dimanfaatkan selama ini merupakan satelit
yang menggunakan sistem optis. Penginderaan jauh sistem optis ini
memanfaatkan spektrum tampak hingga infra merah (Liang, 2004). Rentang
gelombang elektromagnetik yang lebih luas dalam penginderaan jauh
meliputi gelombang pendek mikro hingga spektrum yang lebih pendek
seperti gelombang infra merah, gelombang tampak, dan gelombang ultra
violet (Elachi, 2006).
B. Apa dan Bagaimana Penginderaan Jauh itu ?
Mencermati perkembangan dari penginderaan jauh di atas, perlu dipahami lebih jauh tentang apa dan bagaimana
penginderaan jauh itu sebenarnya. Pemahaman tentang apa dan bagaimana
akan menjelaskan pada fokus dan lokus tentang sesuatu dalam tatanan
keilmuan yang luas. Pemahaman ini akan menjelaskan hakekat dari sesuatu
tersebut. Salah satu cara untuk mengetahui hakekat adalah dengan
merunutnya melalui berbagai definisi yang telah disampaikan oleh para
ahli pada bidang tersebut.
B.1. Definisi Penginderaan Jauh
Banyak
pendapat yang mencoba mendekati dan menjawab apakah penginderaan jauh
itu. Berikut dicontohkan beberapa definisi mengenai penginderaan jauh.
1. Rees (2001) mendefinisikan penginderaan jauh sebagai berikut :
“the collection of information about an object without phisical contact with it”
(Suatu proses pengumpulan informasi tentang obyek tanpa bersinggungan langsung dengan obyek tersebut)
2. Mather (2004) mendefinisikan penginderaan jauh sebagai berikut :
“the
analysis and interpretation of measurement of electromagnetic radiation
that is reflected from or emitted by a target and observed or recorded
from a vantage point by an observer or instrument that is not in contact
with the target ”
(suatu
analisis interpretasi dari pengukuran radiasi gelombang elektromagnetik
yang terpantulkan atau terpancarkan oleh target dan teramati atau
terrekam pada jarak yang jauh dengan pengamat atau peralatan yang tidak
bersentuhan secara langsung)
3. Elachi dan Zyl (2006) menggunakan definisi penginderaan jauh sebagai berikut :
“The acquisition of information about an object without being in physical contact with it”
(Perolehan informasi obyek tanpa bersentuhan fisik secara langsung)
4. Schowengerdt (2007) mencoba mendefinisikan penginderaan jauh dengan istilah :
“a measurement of object properties on the earth’s surface using data acquired from aircraft and satellite”
(suatu pengukuran sifat-sifat obyek di atas permukaan bumi dengan perolehan data melalui pesawat atau satelit)
Secara
umum penginderaan jauh didefinisikan sebagai suatu proses perolehan
informasi tentang suatu obyek tanpa adanya kontak fisik secara langsung
dengan obyek tersebut. Terdapat kata kunci pokok dari definisi-definisi
tersebut, yaitu : informasi dan tanpa kontak (singgungan fisik) dengan obyek.
Dengan demikian dapat disimpulkan secara induktif bahwa segala hal
tentang perolehan informasi tanpa bersinggungan langsung termasuk pada
ruang besar penginderaan jauh. Konsep ini memiliki ruang yang sangat
luas dan belum memiliki kejelasan tentang obyek yang dikaji. Terdapat
bidang lain yang menggunakan terminologi tersebut, dimana perolehan
informasi dilakukan dengan tidak bersinggungan langsung dengan obyeknya
seperti seismik, geomagnetik, geofisika, investigasi sonar, dan
lain-lain (Rees, 2001). Bidang-bidang tersebut tidak masuk dalam ruang
kajian penginderaan jauh.
Penajaman
tentang obyek yang dikaji diperjelas dalam definisi yang disampaikan
oleh Schowengerdt (2007) yang secara eksplisit menjelaskan bahwa obyek
yang ukur adalah segala obyek yang berada dipermukaan bumi dengan segala
sifatnya. Penjelasan ini menegaskan bahwa obyek yang direkam dalam
penginderaan jauh adalah obyek-obyek yang ada dipermukaan bumi, bukan di
dalam bumi atau di luar angkasa. Selain itu Schowengerdt juga
menjelaskan tentang cara perolehan informasinya, bahwa untuk memperoleh
informasi dilakukan melalui pesawat atau satelit. Cara perolehan
informasi yang dijelaskan oleh Schowengerdt ini lebih membatasi dan
memperjelas bentuk dari penginderaan jauh.
B.2. Pendekatan dalam Penginderaan Jauh
Metode
ilmiah melandasi suatu kumpulan asumsi dan paradigma menjadi bangunan
ilmu. Untuk dapat berkembang menjadi sebuah ilmu berbagai pencarian
kebenaran dalam satu bidang harus didasarkan pada metode ilmiah
tertentu. Demikian pula dengan penginderaan jauh. Penginderaan jauh
tidak hanya memberi perhatian pada masalah teknis, namun telah menjadi
bagian penting untuk memahami masalah lingkungan (Adams dan Gillespie,
2006). Aplikasi pengideraan jauh dalam berbagai studi berperan sebagai
alat bantu perolehan data hingga analisis, serta sekaligus ilmu.
Penginderaan
jauh menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan
kualitatif yang sering digunakan adalah metode interpretasi visual baik
dua dimensional ataupun tiga dimensional. Pendekatan kuantitatif banyak
digunakan dalam analisis data pada domain spektral. Pendekatan
kuantitatif dalam penginderaan jauh optis digolongkan pada dasar
analisis statistik, fisikal, dan hibrid (Liang, 2004). Pendekatan
kuatitatif banyak digunakan seperti dalam spektroskopi kualitas air
(Korosov et al, 2009; Moreno-Madrinan et al, 2010; Gitellson et al,
2011), indeks kekeringan (Ghulam, 2007; Patel, 2011), suhu permukaan
lahan (Weng, 2005; Kersten, 2011), dan lain-lain.
Analisis
terhadap data penginderaan jauh dilakukan dalam dua domain yang berbeda
yaitu domain spasial dan domain spektral. Pada domain spasial analisis
data dilakukan dengan cara interpretasi berbagai unsur informasi visual
yang dimunculkan pada data citra tersebut seperti rona, warna, tekstur,
asosiasi, bentuk, ukuran, dan bayangan. Analisis pada domain spasial
banyak dilakukan pada data foto ataupun citra berresolusi spasial
tinggi. Pada domain spektral analisis dilakukan dengan memilih dan
mengolah nilai spektral pada berbagai saluran. Analisis yang dilakukan
pada domain spektral ini menggunakan data citra digital secara multi
spektral dan hiperspektral.
C. Apa dan Bagaimana Penginderaan Jauh itu ?
Dari
uraian singkat di atas dapat ditarik kesimpulan tentang apa (ontologi)
dan bagaimana (epistem) dari penginderaan jauh. Penginderaan jauh adalah
suatu teknik dan sekaligus ilmu untuk memperoleh informasi
tentang obyek dan berbagai fenomena di muka bumi tanpa melakukan
persinggungan langsung dengan obyek atau fenomena yang dikaji tersebut
dengan menggunakan wahana perekam elektromagnetis.
Sebagai
ilmu, penginderaan memiliki berbagai metode ilmiah dalam perolehan
informasi tersebut. Penginderaan jauh menggunakan metode kualitatif dan
kuantitatif pada domain spasial dan spektral.
Referensi
Adams, J.B., Gillespie, A.R., 2006. Remote Sensing of Landscape with Spectral Images – A Physical Modeling Approach. Cambridge University Press. New York.
Elachi, C., Zyl, V.J. 2006. Introduction to the Physic and Techniques of Remote Sensing. John Willey & Sons Inc.. New Jersey.
Ghulam A., Qin Q., Zhan Z., 2007. Designing of the Perpendicular Drought Index. Eviron Geol. 52: p. 1045-1052. DOI 101007/s00254-006-0544-2
Gitelson, A.A., Gurlin, D., Moses, W.J., Yacobi, Y.Z., 2011. Remote estimation of chlorophyll-a concentration in Inland, estuarine, and coastal waters. Advance in Environmental Remote Sensing. 439-468.
Kersten, Y., Brand, A., Fournier, M., Goudreau, S., Kosatsky, T., Maloley, M., Smardiassi, A., 2011. Modelling the Variation of Land Surface Temperature as Determinant of Risk of Heat-Related Health Event. International Journal of Health Geographics. 10;7.
Korosov, A.A., Pozdnyakov, D.V., Folkestad, A., Pettersson, L.H., Sorensen, K., Schuman, R., 2009. Semi-empirical algorithm for retrieval of ecology-relevant water constituents in various aquativ environment. Algorithm. 2. 470-497.
Landgrebe, D.A., 2003. Signal Theory Methods In Multispectral Remote Sensing. John Willey & Sons Inc.. New Jersey.
Liang, S. 2004. Quantitative Remote Sensing of Land Surface. John Willey & Sons Inc.. New Jersey.
Mather, P.M. 2004. Computer Processing of Remotely-Sensed Images An Introduction. John Willey & Sons Inc. Chichester.
Moreno-Madrinan, M., J., Al-Hamdan, M.,Z., Rickman, D., L., Muller-Krarger, F., E., 2010. Using the Surface Reflectance MODIS Terra Product to Estimate Turbidity in Tampa Bay Florida. Remote Sensing, 2. 2713-2728; doi: 10.3390/rs2122713
Patel, N.R., Parida, B.R., Venus, V., Saha, S.K., Dadhwal, V.K., 2011, Analysis of Agricultural drought Using Vegetation Temperatur Condition Index (VTCI) from Terra/MODIS Satellite Data, Environ Monit Asses, DOI: 10.1007/s10661-011-2487-7
Schowengerdt, R.A., 2007. Remote Sensing Models and Methods for Image Processing. Third Edition. Elsevier. London.
Weng, Q., Yang, S., 2006. Urban
Air Pollution Patterns, land Use, and Thermal Landscape: an Examination
of The Linkage using GIS. Environment Monitoring and Assesment. 117: 463-489. Doi: 10.1007/s10661-006-0888-9
Rees, W., G., 2001. Physical Principles of Remote Sensing, Second Edition, Cambidge University Press. Cambridge.
No comments:
Post a Comment