Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat.
Perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya
ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu
pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi.
Meluasnya filsafat dan tepecah menjadi ilmu-ilmu yang baru maka perlu
untuk mengetahui pembagian filsafat dalam cabang-cabang filsafat serta
aliran-alian yang ada dalam filsafat sehingga kita bisa mengetahui arah
pikir dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan serta penggolongannya
dalam filsafat.
Secara singkat dapat dikatakan Filsafat adalah refleksi kritis yang radikal.
Refleksi adalah upaya memperoleh pengetahuan yang mendasar atau
unsur-unsur yang hakiki atau inti. Apabila ilmu pengetahuan mengumpulkan
data empiris atau data fisis melalui observasi atau eksperimen,
kemudian dianalisis agar dapat ditemukan hukum-hukumnya yang bersifat
universal. Apabila ilmu pengetahuan sifatnya taat fakta, objektif
dan ilmiah, maka filsafat sifatnya mempertemukan berbagai aspek
kehidupan di samping membuka dan memperdalam pengetahuan. Apabila ilmu
pengetahuan objeknya dibatasi, misalnya, Apabila ilmu pengetahuan tujuannya memperoleh
data secara rinci untuk menemukan pola-polanya, maka filsafat tujuannya
mencari hakiki, untuk itu perlu pembahasan yang mendalam. Apabila ilmu
pengetahuannya datanya mendetail dan akurat tetapi tidak mendalam, maka
filsafat datanya tidak perlu mendetail dan akurat, karena yang dicari
adalah hakekatnya, yang penting data itu dianalisis secara mendalam.
- A. ONTOLOGI
Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu tentang yang
ada. Sedangkan, menurut istilah adalah ilmu yang membahas sesuatu yang
telah ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Dalam aspek
Ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan-pernyataan
dalam sebuah ilmu. Landasan-landasan itu biasanya kita sebut dengan
Metafisika.
Selain Metafisika juga terdapat sebuah asumsi dalam aspek ontologi
ini. Asumsi ini berguna ketika kita akan mengatasi suatu permasalahan.
Dalam asumsi juga terdapat beberapa paham yang berfungi untuk mengatasi
permasalahan-permasalahan tertentu, yaitu: Determinisme (suatu paham
pengetahuan yang sama dengan empiris), Probablistik (paham ini tidak
sama dengan Determinisme, karena paham ini ditentukan oleh sebuah
kejadian terlebih dahulu), Fatalisme (sebuah paham yang berfungsi
sebagai paham penengah antara determinisme dan pilihan bebas), dan paham
pilihan bebas. Setiap ilmuan memiliki asumsi sendiri-sendiri untuk
menanggapi sebuah ilmu dan mereka mempunyai batasan-batasan sendiri
untuk menyikapinya. Apabila kita memakai suatu paham yang salah dan
berasumsi yang salah, maka kita akan memperoleh kesimpulan yang
berantakan.
Dasar Ontologi Ilmu
Telah disampaikan sebelumnya bahwa kajian ilmu adalah objek
empiris.Pengetahuan keilmuan mengenai objek empiris ini pada dasarnya
merupakan abstraksi yang disederhanakan.Penyederhanaan ini perlu, sebab
kejadian alam yang sesunggunya begitu kompleks, dengan sampel dari
berbagai faktor yang terlibat di dalamnya.Ilmu
bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu terjadi, dengan membatasi diri
pada hal-hal yang asasi. Atau dengan perkataan lain, proses keilmuan
bertujuan untuk memeras hakikat objek empiris tertentu, untuk
mendapatkan sari yang berupa pengetahuan mengenai objek tersebut.
Ada 3 hal yang berkaitan dalam mempelajari ontologi ilmu, yaitu: Metafisika, Probabilitas dan Asumsi.
- 1. Metafisika
Secara etimologis metafisika berasal dari kata “meta” dan “fisika” (Yunani). “meta” berarti sesudah, di belakang atau melampaui, dan “fisika”, berarti alam nyata. Kata fisik (physic) di sini sama dengan “nature”,
yaitu alam. Metafisika merupakan cabang dari filsafat yang
mempersoalkan tentang hakikat, yang tersimpul di belakang dunia
fenomenal. Metafisika melampaui pengalaman, objeknya diluar hal yang
ditangkap panca indra.
Metafisika mempelajari manusia, namun yang menjadi objek
pemikirannya bukanlah manusia dengan segala aspeknya, termasuk
pengalamannya yang dapat ditangkap oleh indra. Sosiologi mempelajari
manusia dalam bentuk kelompok serta interaksinya yang dapat ditangkap
indra serta yang berada dalam pengalaman manusia; begiru juga psikologi, biologi, dan sebagainya.
Namun metafisika mempelajari manusia melampaui atau diluar fisik
manusia dan gejala-gejala yang dialami manusia. Metafisika mempelajarisiapa manusia, apa tujuannya, dari mana asal manusia, dan untuk apa hidup di dunia ini.
Jadi metafisika mempelajari manusia jauh melampaui ruang dan
waktu.Begitu juga pembahasan tentang kosmos maupun Tuhan, yang
dipelajari adalah hakikatnya, di luar dunia fenomenal (dunia gejala).
Metafisika dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1) Ontologi, dan 2) Metafisika khusus. Ontologi mempersoalkan tentang esensi dari yang ada, hakikat adanya dari segala sesuatu wujud yang ada, “ontology is the theory of being qua being”(Runes, 1963,h.219). Sedangkan Metafisika Khusus, mempersoalkan theologi, kosmologi, dan antropologi.
- Asumsi
Ilmu mengemukakan beberapa asumsi mengenai objek empiris.Ilmu
menganggap bahwa objek-objek empiris yang menjadi bidang penelaahannya
mempunyai sifat keragaman, memperlihatkan sifat berulang dan semuanya
jalin-menjalin secara teratur.Sesuatu peristiwa tidaklah terjadi secara
kebetulan namun tiap peristiwa mempunyai pola tetap yang teratur.Bahwa
hujan diawali dengan awan tebal dan langit mendung, hal ini bukanlah
merupakan suatu kebetulan tetapi memang polanya sudah demikian. Kejadian
ini akan berulang dengan pola yang sama. Alam merupakan suatu sistem
yang teratur yang tunduk kepada hukum-hukum tertentu.
Secara lebih terperinci ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai objek
empiris. Asumsi pertama menganggap objek-objek tertentu mempunyai
keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat
dan sebagainya. Berdasarkan ini maka kita dapat mengelompokkan beberapa
objek yang serupa ke dalam satu golongan.Klasifikasi merupakan
pendekatan keilmuan yang pertama terhadap objek-objek yang ditelaahnya
dan taxonomi merupakan cabang keilmuan yang mula-mula sekali
berkembang.Konsep ilmu yang lebih lanjut seperti konsep perbandingan
(komparatif) dan kuantitatif hanya dimungkinkan dengan adanya taxonomi
yang baik.
Asumsi yang kedua adalah anggapan bahwa suatu benda tidak mengalami
perubahan dalam jangka waktu tertentu.Kegiatan keilmuan bertujuan
mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan
tertentu.Kegiatan ini jelas tidak mungkin dilakukan bila objek selalu
berubah-ubah tiap waktu. Walaupun begitu tidak mungkin kita menuntut
adanya kelestarian yang absolut, sebab alam perjalanan waktu tiap benda
akan mengalami perubahan. Oleh sebab itu ilmu hanya menuntut adanya
kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda
tidak berubah dalam jangka waktu tertentu. Tercakup dalam pengertian ini
adalah pengakuan bahwa benda-benda dalam jangka panjang akan mengalami
perubahan dan jangka waktu ini berbeda-beda untuk tiap benda.
Determinisme merupakan asumsi ilmu yang ketiga. Kita menganggap tiap
gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap
gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urut-urutan
kejadian yang sama. Namun seperti juga dengan asumsi kelestarian, ilmu
tidak menuntut adanya hubungan sebab akibat yang mutlak sehingga suatu
kejadian tertentu harus selalu diikuti oleh suatu kejadian yang lain.
Ilmu tidak mengemukakan bahwa X selalu mengakibatkan Y, melainkan
mengatakan X mempunyai kemungkinan (peluang) yang besar untuk
mengakibatkan terjadinya Y. Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai
konotasi yang bersifat peluang (probabilistik).
- Peluang
Salah satu referensi dalam mencari kebenaran, manusia berpaling
kepada ilmu. Hal ini dikarenakan ciri-ciri dari ilmu tersebut yang dalam
proses pembentukannya sangat ketat dengan alatnya berupa metode ilmiah.
Hanya saja terkadang kepercayaan manusia akan sesuatu itu terlalu
tinggi sehingga seolah-olah apa yang telah dinyatakan oleh ilmu akan
bersih dari kekeliruan atau kesalahan. Satu hal yang perlu disadari
bahwa “…ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk
mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak” (Jujun : 79). Oleh karena
itu manusia yang mempercayai ilmu tidak akan sepenuhnya menumpukan
kepercayaannya terhadap apa yang dinyatakan oleh ilmu tersebut.
Seseorang yang mengenal dengan baik hakikat ilmu akan lebih mempercayai
pernyataan “ 80% anda akan sembuh jika meminum obat ini” daripada
pernyataan “yakinlah bahwa anda pasti sembuh setelah meminum obat ini”.
Hal ini menyadarkan kita bahwa suatu ilmu menawarkan kepada kita suatu jawaban yang berupa peluang.Yang didalamnya selain terdapat kemungkin bernilai benar juga mengandung kemungkinan yang bernilai salah.Nilai
kebenarannya pun tergantung dari prosentase kebenaran yang dikandung
ilmu tersebut. Sehingga ini akan menuntun kita kepada seberapa besar
kepercayaan kita akan kita tumpukan pada jawaban yang diberikan oleh
ilmu tersebut.
Sebagaimana telah disampaikan terdahulu, bahwa Determinisme dalam
pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang
(probabilistik).Statistika merupakan metode yang menyatakan hubungan
probabilistik antara gejala-gejala dalam penelaahan keilmuan.Sesuai
dengan peranannya dalam kegiatan ilmu, maka dasar statistika adalah
teori peluang.Statistika mempunyai peranan yang menentukan dalam
persyaratan-persyaratan keilmuan sesuai dengan asumsi ilmu tentang alam.
Tanpa statistika hakikat ilmu akan sangat berlainan.
- B. EPISTIMOLOGI
Epistemology berasal dari kata yunani episteme dan logos.Episteme : pengetahuan atau kebenaran, dan logos :
pikiran, kata atau teori. Epistemology secara etimologi (sebab-sebab)
berarti teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya disebut teori
pengetahuan atau theory of knowledge.
Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang
terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat,
metode dan keshahihan pengetahuan.Jadi objek material epistemology adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu.Jadi
sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya
pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan.
- Ø ARTI PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah suatu istilah yg digunakan untuk menuturkan
apabila seseorang mengenal tentang sesuatu. Sesuatu yang menjadi
pengetahuanya adalah yang terdiri dari unsur yang mengetahui dan yang
diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya.Maka
pengetahuan selalu menuntut adanya subyek yang mempunyai kesadaran
untuk ingin mengetahui tentang sesuatu dan objek sebagai hal yang ingin diketahuinya.Jadi pengetahuan adalah hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu.
- Ø TERJADINYA PENGETAHUAN
Masalah terjadinya pengetahuan adl masalah yang amat penting
Alat untuk mengetahui pengetahuan ada 6 yaitu :
- Pengalaman indra (sense experience)
Pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat
untuk menangkap obyek dari luar diri manusia melalui kekuatan indra.
- Nalar (reason)
Salah satu corak berfikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru.
- Otoritas (authority)
Kekuasaan yang syah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya.
- Intuisi (intuition)
Kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan
dengan tanpa suatu rangsangan untuk membuat peryataan yang berupa
pengetahuan.
- Wahyu (revelation)
Wahyu merupakan salah satu sumber pengetahuan karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.
- Keyakinan (faith)
Kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan.
- Ø JENIS-JENIS PENGETAHUAN
Menurut Soejono Soemargono (1983), ada 2 jenis pengetahuan, antara lain :
- Pengetahuan non-ilmiah
Segenap hasil pemahaman manusia atas atau mengenai obyek tertentu yang terdapat pada kehidupan sehari-hari
- Pengetahuan ilmiah
Senenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan mengunakan metode ilmiah.
Menurut Plato dan Aristoteles. Plato membagi pengetahuan menurut
tingkatan-tingkatan pengetahuan berdasarkan karakteristik objeknya,
yaitu :
- Pengetahuan khayaan (eikasia)
Pengetahuan yang obyeknya berupa bayangan atau gambaran.
- Pengetahuan pistis (pistis)
Pengetahuan mengenai hal-hal yang tampak dalam dunia kenyataan atau hal-hal yang dapat diindrai secara langsung.
- Pengetahuan matematik (dianoya)
Tingkatan yang ada di dalamnya sesuatu yang tidak hanya terletak pada
fakta atau obyek yang tampak, tetapi juga terletak pada bagaimna cara
berfikirnya.
- Pengetahuan filsafat (noesis)
Berfikir tanpa mengunakan pertolongan gambar, diagram melainkan dengan pikiran yang sungguh-sungguh abstrak.
- Ø ASAL-USUL PENGETAHUAN
Asal-usul pengetahuan termasuk hal yang sangat penting dalam
epistemology. Untuk mendapatkan bagaimana pengetahuan itu muncul
(berasal) bisa dilihat dari aliran-aliran dalam pengetahuan dan bisa
dengan cara metode ilmiah, serta dari sarana diberfikir ilmiah.
- Aliran-aliran dalam pengetahuan
Dari mana pengetahuan itu berasal dan apa yg diyakini sebagai
kebeneran bisa dilihat dari aliran dalam pengetahuan. Dari aliran ini
tampak jelas bagaimana pengatahuan itu berasal. Aliran itu yakni :
- Rasionalisme
Sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah rasio (akal).
- Empirisme
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, baik pengalaman batiniah maupun yang lahiriah.
- Kritisme
Paham yang mengutamakan kegiatan non-taklid buta terhadap segala hal.
- Positivisme
Segala ilmu pengetahuan adalah mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan.
- Metode ilmiah
Metode ilmiah yg bersifat umum dibagi dua, yaitu metode
analitiko-sintesis dan metode non-deduksi. Metode analitiko-sintesis
merupakan gabungan dari metode analisis dan metode sintesis.
Metodenon-deduksi merupakan gabungan dari metode deduksi dan induksi.
- C. AKSIOLOGI
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axios
yang berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ ilmu.Aksiologi
merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia
menggunakan ilmunya.Aksiologi dipahami sebagai teori nilai.Jujun
S.suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang
berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John
Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilali merujuk pada pemikiran
atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. Sedangkan nilai itu
sendiri adalah sesuatu yang berharga yang diidamkan oleh setiap insan.
Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.Jadi,
aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang
sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak
ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dijalan yang baik pula karena
akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih
itu dimanfaatkan dijalan yang tidak benar.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu.Ilmu
tidak bebas nilai.Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat,
sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat
dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya
malah menimbulkan bencana.
Aspek aksiologi merupakan aspek yang membahas tentang untuk apa ilmu
itu digunakan. Menurut Bramel, dalam aspek aksiologi ini ada Moral conduct, estetic expresion, dan sosioprolitical. Setiap ilmu bisa untuk mengatasi suatu masalah sosial golongan ilmu.Namun,
salah satu tanggungjawab seorang ilmuan adalah dengan melakukan
sosialisasi tentang menemuannya, sehingga tidak ada penyalahgunaan
dengan hasil penemuan tersebut. Dan moral adalah hal yang paling susah
dipahami ketika sudah mulai banyak orang yang meminta permintaan, moral
adalah sebuah tuntutan.
Ilmu bukanlah sekadar pengetahuan (knowledge).Ilmu memang berperan tetapi bukan dalam segala hal.Sesuatu dapat dikatakan ilmu apabila objektif, metidis, sistematis, dan universal.Dan knowledge adalah keahlian maupun keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman maupun pemahanan dari suatu objek.
Sains merupakan kumpulan hasil observasi yang terdiri dari
perkembangan dan pengujian hipotesis, teori, dan model yang berfungsi
menjelaskan data-data.
KESIMPULAN
Filsafat ilmu merupakan kajian yang dilakukan secara mendalam
mengenai dasar-dasar ilmu. Filsafat dalam aplikasinya memiliki banyak
cabang yakni epistimologi, ontologi, dan aksiologi. Pola hidup manusia
dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah
kemajuan dan perkembangan ilmu. Istilah ilmu sudah sangat populer,
tetapi seringkali banyak orang memberikan gambaran yang tidak tepat
mengenai hakikat ilmu. Kegiatan berpikir manusia pada dasarnya merupakan
serangkaian gerak pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah
kesimpulan yang berupa pengetahuan.Karakter dasar, prinsip dan struktur
ilmu pengetahuan dibangun oleh para pendiri sains modern, dimana pada
saat itu para pendiri sains modern menyadari bahwa hidup manusia
memiliki tujuan yaitu membangun peradaban ummat manusia dan untuk
mencapai tujuannya itu manusia membutuhkan alat. Dan alat itu adalah
ilmu pengetahuan.
Ontologi, epistimologi, dan aksiologi ilmu pengetahuan dalam filsafat
ilmu adalah suatu yang sangat penting karena segi lapis terdalam dari
fondasi dunia itu pengetahuan. Ia adalah sebuah ruang tempat
diletakkannya “Undang-undang dasar dunia ilmu pengetahuan”. Disanalah
ditetapkannya kearah manakah Sains Modern menuju dan kita sebagai
seorang pengguna, sadar atau tidak adalah orang-orang yang sedang
bersama-sama bergerak menuju arah yang sudah ditetapkan oleh para
pendiri sains modern.
________
Disusun oleh:
- Andreas Ardy H.
- Dhias Arani Putri
- Fiki Nurhidayah
- Intan Purwanto
- Noka Maharani
- Yuliarti
No comments:
Post a Comment